[ Batu Akik ] Kehilangan Rumah Gara-gara Anthurium, Yanti Prediksi Akik Bernasib Sama

kotabontang.net - Iriyanti langsung menghela napas ketika membahas tentang booming anthurium beberapa tahun lalu. Ia pun memprediksi tren batu akik yang saat ini booming akan bernasib sama seperti anthurium dan lou han beberapa waktu lalu.

“Saya tidak berani memikirkan urusan akik. Sudah cukup pengalaman dengan anthurium yang membuat saya jatuh,” katanya kepada Tribun Jateng, pekan lalu.

Iriyanti bercerita gara-gara kepincut bisnis anthurium, rumahnya di kawasan Pasadena, Kota Semarang terjual. Kini, ia harus mengontrak rumah untuk tempat tinggalnya.

Sebelum terjun di bisnis anthurium, ia sebenarnya sudah punya binis jamu tradisional yang cukup maju. Kebutuhan keluarga sudah tercukupi dengan bisnis tersebut. Apalagi, ia sering ikut pameran jamu hingga ke luar kota. "Berawal dari situ, saya berkenalan dengan teman pameran yang jual anthurium. Saya tertarik coba menggelutinya," katanya.

Yanti tidak main-main, untuk modal awal berdagang anthurium, ia ‘menyekolahkan’ sertifikat rumahnya ke bank untuk mendapatkan pinjaman. Sejak saat itu, ia tidak hanya berjualan jamu, tetapi juga berbisins anthurium berbagai jenis.

Dulu, ia ingat betul bisnis anthurium sangat menggiurkan. Untuk anthurium biasa, ia bisa untung Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per tanaman. Harga anthurium yang dijualnya bukan kelas rendahan. Ia biasa berdagang dengan harga di kisaran puluhan juta rupiah. "Wah tidak jutaan lagi, tapi Rp 30 juta, Rp 40 juta. Bahkan pernah anthurium saya ditawar Rp 85 juta, tapi saya minta Rp 100 juta. Engga jadi," jelas ibu tiga anak itu.

Kehidupan Iriyanti waktu itu layaknya pengusaha sukses. Dalam seminggu, minimal ia keluar Jawa dua kali. Ia sudah pameran anthurium sampai Batam, Kalimantan dan sebagainya. Untuk mengangkut anthurium, ia selalu menyewa truk.

Namun, mulailah kemalangan menimpa dirinya. Mendadak, anthurium jadi tidak ada harganya. Ia pun mulai tidak bisa membayar pinjaman di bank dan beberapa kredit barang. Bahkan, ia sempat berpindah lokasi jualan mulai dari terminal Mangkang hingga Mal Ciputra karena mencari tempat yang murah. "Akhirnya rumah saya jual dengan harga Rp 140 juta pada seseorang. Sudah saya jelaskan bahwa sertifikatnya di bank, dan tidak masalah. Akhirnya, saya jual segitu," tuturnya.

Sebenarnya jika dihitung dari sisi penjualan Iriyanti sudah untung, tapi keuntungan itu untuk beli anthurium lagi. "Saya pernah diingatkan suami untuk beli emas atau uangnya ditabung. Tapi saya milih memutar keuntungan," kenangnya. (tribun jateng cetak)