[ Batu Akik ] Keluarga Pebisnis Anthurium Hancur, Pedagang Akik Harus Waspada

kotabontang.net - Nasib Iriyanti mirip dengan teman-temannya. Banyak yang bangkrut karena jatuhnya nilai jual anthurium. Bahkan, tidak sedikit mereka yang bercerai dan keluarga hancur karena cekcok rumah tangga.

Yanti pun memprediksi tren batu akik yang saat ini booming akan bernasib sama seperti anthurium dan lou han beberapa waktu lalu. "Saya ingat dulu, cuma tiga bulan hingar bingarnya (anthurium)," cerita Yanti, pekan lalu.


Ia sempat syok dan beberapa kali cekcok dengan suami. Tapi, ia berprinsip bahwa uang bisa dicari, sedangkan keluarga tidak ada duanya. Dengan banyak cara, keluarganya bertahan dan sedikit demi sedikit mencoba bangkit. "Saya mulai dari nol lagi, ider jamu berkeliling hingga dapat tempat di kantin Pemkot (Semarang). Teman-teman saya pun selalu menyemangati saya untuk bangkit lagi," tuturnya.

Meskipun tertatih-tatih, perlahan kehidupannya mulai bangkit. Dari jualan jamu keliling yang hanya mendapat pemasukan Rp 20 ribu per hari, kini penghasilannya lebih stabil. Kini, ia berkonsentrasi mengembangkan kantin jamunya.

Ia dan keluarganya berusaha bangkit dari keterpurukan. Meskipun tidak 'sekaya' dulu, baginya pemasukan sehari-hari sudah bisa menutupi kebutuhan. Lambat laun, usaha jamunya kembali merangkak naik.

Iriyanti bercerita gara-gara kepincut bisnis anthurium beberapa waktu lalu, rumahnya di kawasan Pasadena, Kota Semarang terjual. Kini, ia harus mengontrak rumah untuk tempat tinggalnya. Ia tidak ingin para pebisnis akik mengalami nasib serupa dengan dirinya.

Yanti berujar, kini ia sudah tidak punya rumah lagi. Bersama keluarganya, ia mengontrak sebuah rumah di wilayah Manyaran Semarang. Namun ia sudah punya kantin jamu lain di wilayah Semarang Barat. "Pesan saya, jangan menyerah kalau jatuh. Tetap bangkit lagi, tetap berusaha," imbuhnya. (tribun jateng cetak)