Antara Kisah 'Vagina Street' dan Tata Chubby (3/habis)

kotabontang.net - INDEKOS di kawasan 'Vagina Street' di Tebet Utara Jakarta Selatan, disebut-sebut memang menjanjikan kesenangan sesaat. Betapa tidak, usut punya usut, tarif indekos di sana rata-rata dipatok Rp 1,5 sampai 2 juta per bulan.

Hhmm..untuk sewa harian, berkisar di angka Rp200 ribu saja.

Mayoritas penghuni di indekos tersebut adalah cewek bisyar alias habis pakai langsung bayar. Selain menjaring konsumen lewat jejaring sosial seperti Tata Chubby, mereka berharap dapat pelanggan dari pria dewasa yang menyewa kamar harian.

Mungkin yang bikin pria hidung belang lebih terpacu adrenalinnya, umumnya cewek-cewek tersebut beraksi secara individu atau tidak terikat oleh jaringan mucikari.

“Paling banyak pelanggannya dari mulut ke mulut atau dari twitter,” kata Ferdy, petualang cewek bisyar di kawasan itu, saat berbincang ringan dengan Syahnoer, wartawan RMOLJakarta (Grup RMOL-JPNN), Jumat (17/4) pagi tadi.

Karena beraksi sendiri-sendiri, tarif yang berlaku pun bervariasi. “Mulai 400 ribu hingga 2,5 juta. Untuk tarif yang mahal, itu khusus cewek yang memang berprofesi sebagai model atau artis-artis figuran,” tambahnya.

Ferdy menjelaskan, menariknya para cewek bisyar di ‘Vagina Street’ itu rata-rata memilih melayani pria yang sudah memesannya sejak siang hari. Hal itu tak terlepas dari faktor keamanan.

Tentang praktik prostitusi terselubung di kamar indekos itu, sebenarnya bukan cerita baru. Ya, dari mulut ke mulut sudah tersebar, kawasan itu sejak dulu sudah jadi incaran pria memenuhi hasratnya.

Nah, kawasan tersebut mendadak makin terkenal kembali baru-baru ini setelah Tata Chubby yang tinggal di 'BH' 15 C ditemukan tewas...(arp/adk/jpnn)