Twit Forensik Mengendus Kejahatan Twitter

PERANCANG Twit Forensik dari Program Studi Informatika Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) Arif Nugrahanto didampingi Kepala Pusat Studi Forensik Digital FTI UI Yudu Prayudi (berpeci) saat menjelaskan rancangan digital forensiknya.*
kotabontang.net - [ YOGYAKARTA ]  Twit Forensik menjadi aplikasi pengendus kejahatan teknologi digital melalui akun twitter. Sistem kerjanya, aplikasi yang terpasang bisa menembus akun twitter tanpa password atau sandi kunci.

Sang perancang dari alumnus Program Studi Informatika Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) Arif Nugrahanto mendedikasikan karyanya sebagai “pemburu” penjahat digital khususnya dalam akun twitter.

Ketika diminta memeragakan aplikasi Twit Forensiknya untuk mengendus akun @santos06yoyo milik Mohammad Rio Santoso, tersangka pembunuh Deudeuh Alfi Syahrin (26) alias Tata Chubby di Tebet, Twit Forensik dengan cepat menembusnya dan merunut dengan siapa saja si pemilik akun chatting, baik sebelum maupun sesudah membunuh. Pelaku dalam pelarian sempat menghubungi perempuan lain dalam klub Tata Chubby, seperti, “hi mam, mau bo besok apa ada slot”.

Dalam pernyataannya, Minggu (18/4/2015), dia menyatakan ketika Twit Forensik menembus akun, terpampang di dalamnya sejumlah fitur seperti pengguna status, mention, folower, folowing. Kemudian penyelidik bisa memetakan aktivitas pemilik akun dari waktu ke waktu dan bisa mengendus 3200 status yang telah diposting.

Di balik kelebihannya mengendus langsung akun twitter, Arif Nugroho mengakui ada kelemahan, aplikasinya belum bisa menjangkau posisi pemilik akun sedang di mana karena belum nyantol atau dihubungkan dengan GPS.

Kepala Pusat Studi Forensik Digital FTI UI Yudi Prayudi menyatakan twit forensic menjadi penting ketika kejahatan digital makin meninggal dengan menggunkan akun personal. Mengingat dari 288 juta pengguna twitter, pemilik akun di Indonesia mencapai 6,5 persen atau sepuluh besar di dunia, maka Twit Forensik membantu penegah hokum dalam mengungkap kejahatan digital dan memberi keamanan kepada penggunanya. (Mukhijab/A-108)***