Habitat Orangutan Kian Terancam, Butuh Keajaiban Mengembalikannya

kotabontang.net - Pulau Kalimantan mungkin tidak lagi menjadi habitat yang ramah bagi satwa orangutan. Geliat industri pertambangan dan perkebunan sawit kian mengancam populasi satwa ini.

Butuh "keajaiban" untuk mengembalikan habitat orangutan di daerah Sekunyer, Kumai, Kalimantan Tengah, begitu kata aktivis lingkungan menyambut Hari Bumi, Rabu (22/4/2015).

Sebanyak 260 siswa sekolah dasar berpartisipasi dalam kegiatan menanam pohon di tempat di mana populasi orangutan semakin berkurang.

Penanaman 30 jenis pohon lokal Kalimantan ini merupakan langkah kecil yang bisa dilakukan, kata Basuki Budi Santoso.

"Nanti setidaknya lahan ini bisa menjadi kawasan agroforestry. Karena untuk mengembalikan habitat orangutan di kawasan ini, butuh keajaiban dan harapannya kecil," ujarnya dengan nada pesimistis.

Pegiat di Friends of National Parks Foundation Kalimantan ini mengatakan bahwa lokasi penanaman sangat dekat dengan penemuan tulang belulang orangutan beberapa tahun lalu.

"Wilayah ini adalah penyangga Taman Nasional Tanjung Puting, dan diapit konsesi sawit. Habitatnya tergerus, namun masih ada hutan kecil di mana kita bisa menemukan satu dua orangutan," ungkapnya.
Kuburan orangutan

Pada 2013 lalu, aktivis lingkungan Rahma Shofiana melihat sendiri penemuan tulang belulang orangutan di kawasan itu.

"Bagian-bagian tulang terpisah, kita menemukan tengkorak, lalu beberapa meter di depannya ada tulang hasta, lengan, jalan lagi, ketemu tulang kaki dan jari," katanya kepada BBC Indonesia.

Belum jelas ada berapa banyak orangutan yang terkubur di lokasi yang merupakan perbatasan antara dua konsesi kelapa sawit tersebut.

"Dugaannya adalah habitat mereka terjepit antara dua kebun sawit, sehingga ketika makanan habis, mereka pergi ke perkebunan sawit. Di kebun sawit itu diduga orangutan dibunuh karena mengganggu," sambung Rahma, Media Campaigner Greenpeace Indonesia.

Orangutan Foundation International (OFI) dan Friends of National Parks Foundation (FNPF), dalam surat kepada pihak berwenang, menggambarkan kawasan ini sebagai "kuburan" orangutan. (*)