Pangeran Ali Janjikan Rp 13,3 Triliun untuk Negara 'Miskin', Sepp Blatter?

kotabontang.net - Dua kandidat, Sepp Blatter dan Pangeran Ali bin Al Hussein dipastikan akan bersaing ketat dalam pemilihan Presiden FIFA 2015-2019 di Kongres ke-65 FIFA di Zurich, Swiss, Jumat (29/5).

Dilansir dari ESPN, Jumat (29/5), peta kekuatan suara dua kandidat mulai mengkristal. Dua konfederasi, CAF (Afrika) dan AFC (Asia) cenderung berada di belakang Blatter. Di antara dua konfederasi besar tersebut, setidaknya 100 suara diperkirakan mengalir ke kotak suara Blatter.

Sementara Pangeran Ali lebih disukai UEFA (Eropa). Setidaknya 45 atau 46 suara dari 53 anggota UEFA akan berada di belakang Pangeran Ali.

Sementara CONCACAF (Amerika Utara, Tengah dan Karibia), CONMEBOL (Amerika Selatan) suaranya masih misterius. Memang, federasi Amerika Serikat terang-terangan akan berada bersama kubu Pangeran Ali. Voting diperkirakan bakal berjalan menegangkan. (adk/jpnn)

Sekilas Sepp Blatter

Joseph 'Sepp' Blatter lahir di Valais, Swiss, 10 Maret 1936. Dia adalah Presiden FIFA kedelapan, yang dilantik pada 8 Juni 1998, menggantikan Joao Havelange (Brasil).

Blatter adalah alumnus Universitas Lausanne dalam bidang Administrasi dan Ekonomi (Fakultas Hukum), Blatter pernah bekerja di Badan Pariwisata Valais, Federasi Hoki Es Swiss, dan Longines S.A.

Dia mulai bekerja di FIFA pada tahun 1975, sebagai Direktur Teknis (1975-81), Sekretaris Umum (1981-98), dan kemudian Presiden (sejak 1998). Ia terpilih kembali sebagai presiden pada tahun 2002 (mengalahkan Issa Hayatou) dan sekali lagi pada tahun 2007.

Kebijakan Presiden Blatter yang paling mudah diingat adalah diperkenalkannya sistem silver goal untuk menggantikan golden goal (sejak Euro 2004). Sistem ini kemudian dihentikan dan semua pertandingan kini memainkan babak tambahan penuh.

Blatter juga menghapus kualifikasi otomatis bagi juara bertahan Piala Dunia FIFA sejak Piala Dunia FIFA 2002. Di era Blatter juga, seorang pemain yang merayakan golnya dengan cara membuka baju diberi hadiah kartu kuning. Blatter mampu berbahasa Jerman, Prancis, Inggris, Spanyol, dan Italia.

Apa yang terjadi jika Blatter menang?

Blatter menjanjikan reformasi di periode kepemimpinan berikutnya. Selama kampanye, Blatter menegaskan tidak ada yang salah dengan roda organisasi FIFA selama dia memimpin. Keberhasilan pelaksanaan Piala Dunia yang menjamah negara-negara baru juga selalu disebut Blatter selama kampanyenya. Blatter juga menegaskan FIFA akan selalu menggalakkan perang terhadap korupsi.

Sekilas Pangeran Ali bin Hussein


Pangeran Ali bin Hussein lahir di Yordania pada 23 Desember 1975. Dia adalah putra ketiga Raja Hussein dari Yordania, atau anak kedua dari raja dengan istri ketiganya, Queen Alia.

Sejak 6 Januari 2011, Pangeran Ali telah menjabat wakil presiden FIFA.

Pangeran Ali mulai pendidikan utamanya di Islamic Educational College di Amman. Ia melanjutkan studinya di Inggris dan Amerika Serikat dan lulus dari Salisbury School di Connecticut pada tahun 1993, di mana dia istimewa di cabang olahraga gulat.

Pangeran Ali kemudian masuk Royal Military Academy Sandhurst di Inggris. Ali ditugaskan sebagai perwira pada bulan Desember 1994 dan dianugerahi Medali Brunei. Sebelum melanjutkan studinya di Amerika Serikat, ia bertugas di Pasukan Khusus Yordania sebagai pathfinder. Dia menyelesaikan pendidikan sarjana di Princeton University pada tahun 1999.

Pangeran Ali fasih berbahasa Arab, Inggris, dan Sirkasia.

Pada tahun 1999, Pangeran Ali diminta untuk melayani sebagai komandan Security Khusus Raja Abdullah II di Royal Guards. Ia menjabat dalam kapasitas yang hingga 28 Januari 2008, ketika raja dipercayakan Pangeran Ali dengan mendirikan dan mengarahkan Pusat Nasional untuk Keamanan dan Manajemen Krisis.

Prince Ali adalah Presiden Asosiasi Sepak Bola Yordania ( Jordan Football Association/JFA). Dia juga pendiri dan presiden Federasi Sepakbola Asia Barat, dan di bawah kepresidenannya, keanggotaan meningkat menjadi 13 negara.

Pangeran Ali mengumumkan pencalonannya untuk posisi Wakil Presiden FIFA yang mewakili Asia pada 7 Oktober 2010. Kampanye Ali difokuskan pada perubahan, cita-cita sepak bola, dan menyatukan dan meningkatkan profil negara-negara Asia.

Pangeran Ali memenangkan pemilu untuk posisi FIFA VP mewakili Asia di Kongres AFC yang digelar di Doha, Qatar, pada tanggal 6 Januari 2011.

Apa yang terjadi jika Pangeran Ali menang?

Pangeran Ali telah berjanji melakukan reformasi di sejumlah bidang utama, seperti pengembangan publikasi media dan hak pemasaran untuk turnamen besar. Akuntabilitas yang lebih besar, dan juga akan diperkenalkan bagaimana FIFA mendistribusikan sekitar 1 miliar USD atau sekitar Rp 13,3 triliun untuk negara-negara sepak bola yang masih kecil dilihat dari infrastruktur pembangunannya.

Dia juga berjanji menyingkirkan birokrasi FIFA dan budaya patronase yang dia klaim mengarah ke korupsi. Pangeran Ali menjanjikan kepengurusan FIFA yang bersih, lebih ramping, lebih efisien.