Reformasi di Bawah Kibaran Kutang

kotabontang.net - AWAL Mei 1998, saya mahasiswa tingkat akhir yang nyambi bekerja sebagai fotografer lepas. Televisi telah menyiarkan kerusuhan di Jakarta dan beberapa daerah lain.

Saya mendapatkan informasi bahwa pada hari itu Kota Medan akan panas bergejolak. Maka ketika kawan-kawan saya sibuk rapat di kampus untuk menyusun rencana unjukrasa, saya menyelinap ke luar dan dengan sepeda motor menyambangi titik-titik yang disebut-sebut akan "meledak". Saya membawa kamera analog, Nikon FM10. Tentu saja pinjaman.

Informasi itu ternyata valid. Berawal dari kerusuhan di kawasan Terminal Amplas, di mana ratusan massa yang tidak jelas lagi apakah ia warga asli atau warga pendatang atau preman setempat atau preman bayaran, memblokir akses jalan dan mulai menjarah toko-toko, secara cepat kerusuhan demi kerusuhan bergeser ke kawasan-kawasan lain, termasuk kota kecil tempat saya tinggal, Lubukpakam.

Saya masih ingat betul, keesokan harinya, ayah saya berangkat bekerja tanpa seragam dan mengendarai mobil dinas yang plat nomor polisinya telah berganti warna hitam. Plat palsu.

Mau bagaimana lagi? Jika ingin tetap pergi bekerja, itulah satu-satunya pilihan paling aman, karena mengendarai mobil plat merah sama artinya dengan bunuh diri. Pegawai pemerintah adalah musuh. Pegawai pemerintah adalah anak buah Soeharto.

Massa yang sedang kangslupan entah apa akan langsung berubah beringas jika melihat atribut-atribut pemerintah. Sebelum ide mengganti plat merah dengan plat hitam ini muncul, tak kurang 10 mobil plat merah dibakar di Medan.

Kerusuhan demi kerusuhan memuncak pada tanggal 21. Dari Istana Negara, Soeharto menyampaikan pidato terakhirnya sebagai kepala negara. Orde baru runtuh, berganti orde yang dengan megah dan mengharukan disebut sebagai orde reformasi. Orde perbaikan.

Sembilan hari dari sekarang, reformasi telah berusia 17. Apa yang sudah terperbaiki? Tolong beritahu saya jika ada. Politik semakin parah. Ekonomi juga nyungsep. Sosial budaya lebih-lebih. Gegar dan kemunduran terjadi di sana-sini, di tiap lini. Dan semua itu dirayakan gegap-gempita di berbagai media sosial, mainan baru yang langsung jadi teman hidup paling sejati.

Sembilan hari lagi reformasi beranjak memasuki usia dewasa. Tapi hari-hari belakangan ini waktu kita banyak habis untuk mempercakapkan Jokowi dan wacana reshufle menteri, kisruh PSSI, dan berapa harga semalam untuk mendapatkan pelayanan dari AA, model dan artis kelas dua.

Dua yang pertama masih bolehlah. Politik memang merupakan agenda utama reformasi dan berkaitpaut erat dengan perekonomian negara. Pun begitu sepakbola. Di banyak negara sepakbola telah menjelma industri yang mampu mendatangkan uang banyak. Di lain sisi, sepakbola dapat pula menjadi kebanggaan. Sepakbola mengantarkan negara-negara yang cuma noktah di atas peta dunia ke ruang perbincangan yang terhormat.

Namun waktu yang tersita untuk perkara AA dan apa yang ia dan kawan-kawan seprofesinya jual, saya kira sudah berlebihan. Tentu saja, saya tidak bilang perkara ini tak penting. Sebaliknya, ia cukup penting, dengan catatan apabila konteks dan sudut pandangnya tepat.

Prostitusi sudah berlangsung sejak lama sekali. Sejak zaman kapan saya tak dapat merinci. Pastinya jauh-jauh sekali sebelum Hugh Marston Hefner terpikir untuk menerbitkan majalah Playboy. Jauh-jauh sekali sebelum Giovani Tinto Bras mengeker dari balik lensa untuk merekam adegan persetubuhan. Jauh-jauh sekali sebelum Annie Arrow menggoda jutaan remaja di negeri ini dengan kalimat-kalimat yang menghadirkan debar kencang di dada.

Apa yang berubah sejak zaman itu hanyalah metode. Sekarang, prostitusi dijalankan tidak melulu secara langsung. Artinya pelacur dan pengguna jasanya tak perlu bertemu muka. Prostitusi dijalankan lebih canggih, dan rapi, lewat internet. Uang jasa ditransfer lewat rekening, tak lagi diselipkan ke balik kutang.

Sekali lagi, perkara prostitusi ini penting. Para penjahat seksual memanfaatkan betul kemajuan teknologi untuk menjejalkan jualannya. Mereka memburu Anda bahkan sampai ke titik paling pribadi di kamar tidur. Siapa pelacurnya dan berapa tarifnya, bisa langsung diketahui hanya dengan menyentuhkan ujung jari ke perangkat tablet atau telepon pintar.

Dari sisi ini, tindakan polisi pada dasarnya sudah benar. Akan tetapi, kemudian mereka seperti larut dan menepikan substansi. Polisi seperti menikmati popularitas yang mencuat karena kibaran kutang dan celana dalam AA yang dijadikan barang bukti. Polisi juga tidak cepat tanggap, dan membiarkan banyak isu miring berkembang perihal artis-artis lain yang juga berstatus siap pakai.

Sembilan hari lagi ulangtahun reformasi. Di hari itu Soeharto dan rezimnya yang terkesan manis namun berbisa dijatuhkan oleh perjuangan yang tidak main-main. Banyak yang sudah melupakan hari itu. Dan hari-hari ini, menjelang hari penting itu, pertanyaan yang banyak beredar adalah, siapa TB, siapa SB, siapa RF, siapa PUA? Siapa gerangan orang-orang yang menyewa mereka sebagai teman tidur dengan bayaran seharga satu mobil? Ah...

Twiter: @aguskhaidir