Bunga Lily Awalnya Dianggap Gulma


kotabontang.net - Tanaman bunga lily bagi petani di Dusun Ngasemayu, Desa Salam, Kecamatan Patuk awalnya dikenal sebagai tanaman pengganggu.

Sebab, bunga yang mekar di setiap awal musim penghujan ini berkembang biak cukup cepat sehingga mengurangi nutrisi bagi tanaman yang dikembangkan oleh para petani.

Kondisi itu membuat para petani sering gagal panen sehingga memilih untuk mencabuti umbinya sebelum musim penghujan datang.

Namun hal itu tidak lagi dilakukan sekitar tahun 2000 an lalu. Warga yang tinggal di Dusun Ngasemayu mulai memanfaatkan bunga lily untuk dijual kepada wisatawan.

Umbi-umbi bunga lily yang belum mekar tersebut ditanam di polibag dan dijual di pinggir jalan yang ada di sepanjang jalan Wonosari-Yogyakarta.

Peluang tersebut akhirnya mulai dikembangkan oleh Sukadi(43), salah seorang warga Dusun Ngasemayu, Salam, Patuk untuk mulai mengembangkan kebun bunga Lily.



Awalnya ayah dua anak tersebut hanya menaman umbi bunga lily yang tumbuh liar di sekitar rumahnya.

Setelah berjalan beberapa tahun, permintaan bunga lily yang hanya mekar saat awal musim penghujan ini mulai meningkat.

Akhirnya, Sukadi mulai membudidayakan bunga lily secara besar-besaran dengan mendatangkan benih sekitar dua ton.

Umbi-umbi bunga lily tersebut kemudian ditanam di lahan seluas lebih kurang 2000 meter yang ada di sekitar rumahnya.

Setelah berjalan beberapa tahun, kebun bunga lily mulai berkembang. Setiap awal musim penghujan, Sukadi yang sehari-hari berprofesi sebagai penjual mainan anak-anak ini memilih untuk beralih profesi sebagai penjual bunga lily.

“Awalnya hanya jual di pinggir jalan, setiap polibag saya jual dengan harga Rp 7000 untuk enam tangkai bunga lily,” katanya.
Setelah bertahun-tahun menjalani profesi sebagai penjual bunga lily musiman, keberuntungan pun menghampiri Sukadi.

Tepatnya saat awal musim penghujan 2015. Turunnya hujan sejak pertengahan November lalu membuat kebun bunga lily yang ada di pekarangan rumah mekar secara bersamaan. (tribunjogja.com)